IPW Ungkap Lima Figur Ini Patut Dicermati Pansel Capim KPK

Jakarta (Sigamelang.com) – Banyaknya figur yang mendaftar mengikuti seleksi calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi berkah bagi panitia seleksi (Pansel). Namun banyaknya figur tersebut dapat juga menjadi musibah dan malapetaka bagi KPK jika Pansel salah pilih. Apalagi saat ini cukup banyak anggota Polri, jaksa, dan pengacara yang ikut mendaftar sehingga Pansel harus teliti terhadap track record figur-figur yang mendaftar sebagai calon pimpinan KPK.

Indonesia Police Watch (IPW) menilai, sedikitnya ada lima hal yang patut dicermati Pansel dalam menyeleksi capim KPK. Kelima kelompok ini harus dihindari masuk ke KPK. Pertama, figur yang mengalami post power syndrome. Umumnya pejabat atau mantan pejabat tinggi kerap terjebak post power syndrome dan merasa paling tahu dan serba tahu, terutama dalam hal pemberantasan korupsi.

“Padahal seharusnya mereka (figur post power syndrome) yang menjadi sasaran KPK, mengingat kekayaannya tidak sebanding dengan penghasilannya sebagai pejabat,” ungkap Ketua Presidium IPW Neta S Pane.

Dia melanjutkan, figur kedua yaitu mantan pejabat yang selalu berburu jabatan untuk eksistensi. Figur ini adalah mereka yang sudah mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada), calon anggota legislatif (caleg) maupun posisi lainnya dan selalu gagal. “Tapi mereka selalu mengatakan ingin mengabdi untuk bangsa,” ujar Neta.

Selanjutnya, figur ketiga adalah mantan politisi atau mantan tim sukses (timses). Sebab, dikhawatirkan loyalitasnya akan tetap tinggi pada kelompok politik tertentu, padahal dalam banyak kasus para politisilah yang kerap terjerat korupsi.

Keempat, figur pencari kerja yang seolah-olah KPK dianggap sebagai peluang lapangan kerja potensial. Kelima, pansel jangan terjebak kategorisasi Indonesia Barat dan Timur dalam memilih capim KPK karena Indonesia adalah satu dalam NKRI.

“Figur bermasalah harus benar-benar dihindari untuk menjadi pimpinan KPK agar tidak “tersandera” oleh internal lembaga tersebut. Ke depan KPK membutuhkan figur pimpinan yang mampu membenahi internal, menjadi teladan, tidak tebang pilih dan berani menyapu bersih semua kasus korupsi, mampu membangun sinergi dengan Polri dan Kejaksaan sehingga kedua lembaga itu bisa disupervisi agar tipikornya juga bisa bekerja maksimal. Dan tentunya KPK butuh figur yang tidak mudah distir anak buah di internalnya.

“Pansel harus mencari capim KPK yang mampu menyelesaikan kasus Novel hingga ke pengadilan, baik kasus penyiraman air keras maupun kasus penembakan di Bengkulu. Sehingga KPK tidak terus-menerus menjadi bulan-bulanan dan politisasi atas kedua kasus tersebut,” kata Neta.

Selain itu, imbuh Neta, capim KPK harus punya target dalam penyelesaian kasus yang menjerat RJ Lino, kasus Sattar, kasus Syamsul Nursalim dan Itji Nursalim. “Tanpa semua itu, KPK periode baru tidak akan memunculkan terobosan baru dan hanya mengulang era KPK sebelumnya yang asyik dengan pencitraan dengan operasi tangkap tangan tanpa hasil maksimal,” tukas Neta. (hattadi)

Comments

comments